Rabu, 17 Februari 2021

Cerpen. Ibu tidak butuh kado


Mendung, aku duduk di depan kamar. Menghitung mundur pulangan dua minggu ke depan. Tidak sabar bertemu keluarga dan sanak saudara. Namun Sebentar saja lamunan itu buyar oleh beberapa santri baru yang lewat sambil membawa plastik belanjaan, dari kantin rupanya. Terdengar sekilas mereka membicarakan kado untuk ibu. Kalo perlu hadiahnya harus mahal dan bermerek.

@@@

Momen hari ibu, tentu saja banyak santri sibuk memikirkan memilih kado terbaik untuk sang malaikat tak bersayap. Ah, benar. Sebutan itu memang cocok sekali untuk ibu. 

Aku menatap antusiasme mereka dari jendela kamarku. Ada yang pake kardus indomie, ada yang sederhana saja bikin bungkusan sendiri dan dibentuk seperti permen. Eh apa lebih mirip pocong? Entahlah. Lucu sekali mereka di usia SMP melihat teman sekamarnya rusuh memilih kado maka satu-dua yang tadinya tidak tertarik jadi ikutan semangat menyisihkan uang saku dan memilih kado terbaik versi mereka.

Bahagia terpancar di sudut kamar mana pun, di dalam dan juga di luar kamar. Kebetulan ini asrama khusus SMP. Semua sibuk. Kecuali Nora. Gadis kecil itu seminggu terakhir dia begitu terpukul. Tepat dua minggu sudah dia menjadi seorang piatu. Euforia hari ibu ini justru begitu menyakitkan untuknya. Berbanding terbalik dengan anak-anak tadi.

Kebetulan kamarnya berada tepat di depan kamarku. kelihatannya sejak tadi pagi dia hanya tidur. Dia adalah gadis paling sedih hari ini. Mana sempat teman-temannya yang masih SMP itu berempati. Sedih. Ini bukan soal kado itu. Tapi ini soal penyesalan.

Dia seringkali berbohong pada ibunya, meminta uang yang lebih dari kebutuhan yang dia daftar. Sampai suatu saat ibunya jatuh sakit. Ya, ibunya selalu bersikeras untuk memenuhi permintaan Nora. Namun dia baru tahu kenyataan itu dari paman, 3 hari sepeninggal ibunya. Karena memang selama ini ibunya selalu nampak bahagia saja dan tidak pernah mengeluh.

Nora masih kelas II SMP, yang dia tahu hanya uang saku harus tepat waktu. Dia pikir itu impas. Sebanding dengan permintaan ibunya untuk masuk pesantren tanpa berpikir seberapa keras ibunya berjuang untuk itu.

@@@

Siang hari. Dia bangun dan tiba-tiba berlari sambil menangis. Memutuskan bersembunyi di bawah jemuran. Menumpahkan seluruh tangis.

“Maafkan aku ibu, sungguh aku mencintaimu …” Nora sesenggukan mengatakannya, air matanya juga mengalir deras. Menyesal. Seharusnya hari ini dia ikut bersuka cita dan bertukar ide menarik soal kejutan apa akan mereka berikan. Tapi hari ini, dia justru tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu. Lama sekali dia menangis sampai jatuh pingsan.

Teman-teman kamarnya baru saja menyadari bahwa Nora menghilang ketika jadwal mengaji sore tiba.

“Eh, ke mana ya Nora?” 

Rinda yang pertama menyadari hal itu, disusul yang lain saling bertanya. Mereka tidak punya ide Nora bersembunyi di mana. Mereka bertanya ke kamar lain dan mencarinya ke mana-mana. Pesantren mereka luas sekali. Sampai seseorang dengan membawa tumpukan baju berteriak.

“Mbak, ada yang tidur di jemuran. Kayaknya Si Nora.”

Mendengar itu mereka langsung menuju ke sana dan menemukan Nora tengah pingsan. Badannya panas. Kesedihan masih jelas membuat keadaannya memburuk. 

“langsung bawa dia ke ruang kesehatan!” kataku, aku ikut khawatir dengan keadaannya.

@@@

Nora baru sadar satu jam kemudian. Bingung menatap sekeliling ruangan penuh dengan teman-teman kamarnya. Terakhir dia hanya ingat menangis di tempat yang sepi kenapa sekarang sudah ada di sana saja.

“Alhamdulillah, kamu sudah siuman. kami semua khawatir padamu Nora.” Rinda mengatakan itu sambil berkaca-kaca. Dia menyuruh Nora mengatakan apa alasannya sampai bersedih.

“Aku, aku hanya ...” 

Dia bercerita tentang yang dia rasakan hari ini. Tentang penyesalannya. Tentang hari ibu. Yang jelas, tentang dirinya yang hanya bisa menatap semuanya dengan penyesalan. Dia takkan pernah bisa membungkus kado apapun untuk ibu. Selamanya.

Nora menceritakan semua itu dengan air mata yang bercucuran. Selama ini dia hanya menganggap mondok sebagai imbalan agar semua permintaannya dituruti. Tidak perduli bagaimana perilakunya setiap hari di sana. Dia belum paham seberapa penting itu untuk masa depannya. Seisi ruangan tiba-tiba ikut sedih mendengar cerita Nora. Mereka sedari pagi tidak memperhatikan sama sekali kesedihan yang dirasakannya. Begitu juga denganku.

Aku mendekatinya, “Nora, Mungkin kamu memang tidak bisa membungkus kado apapun untuk ibumu saat ini. Tapi ketahuilah satu hal, kamu masih selalu bisa memberikan kado untuknya”. Sambil mengusap air matanya.

“oh ya kak, bagaimana caranya?”

“Kamu harus menjadi lebih baik, belajar yang rajin. Buat ibumu bangga di sana. Tunjukkan bahwa kerja kerasnya selama ini tidaklah sia-sia dan jangan lupa berdoa untuknya.” Aku menggenggam tangannya untuk meyakinkan.

“iya kak, aku janji ...!” 

Kali ini tangis haru pecah memenuhi ruangan kesehatan itu. Mereka semua memeluk Nora bersamaan. Sempat menghibur bilang Nora jelek kalau menangis dan tentu saja mereka semua saling menyayangi. Seperti keluarga. Aku ikut bahagia menyaksikan ini. Sungguh pesantren memang bisa membuat orang lain sedekat saudara.

“Jangan sedih, Nora. Besok ikut aku ya jadwal kunjungan. Ibuku kesini. Anggap saja ibuku itu juga ibumu.”

Dengan mata yang masih berkaca-kaca, “benarkah Rinda?, aku boleh ikut...”

“Tentu saja. Ibuku pasti senang bertemu denganmu”

Suasana haru menutup cerita sore itu. 

@@@

Malam menjelang. Cerita tadi sore membuatku belajar bahwa kado terindah untuk seorang ibu bukanlah tas mahal, baju bermerek atau apapun yang bisa menghabiskan uang. Tapi lebih dari itu kado terindah untuk ibu adalah seberapa besar kasih sayangmu padanya, seberapa besar kau berusaha membuatnya bahagia, dan seberapa banyak doa yang kau panjatkan untuknya. Bukan malah sebaliknya. Maka, saat semua itu sudah kau lakukan. Kado yang paling mahal pun bisa mengalahkannya. Apa artinya kado mahal (apalagi uang yang dipakai masih meminta orang tua) kalo hadiah itu hanya sebatas ikut-ikutan teman saja.

@@@

Di sisi lain. 

Suasana pesantren yang sepi. Jam dua belas malam. Semua sudah terlelap. Terlihat seorang wanita paruh baya mendatangi Nora. Melihatnya tengah tertidur pulas sambil tersenyum. Nora sedang bermimpi. Mimpi bertemu dengan ibunya.

Wanita itu duduk di samping Nora, sambil mengusap kepalanya dengan lembut.

“Ibu tidak butuh kado, ibu hanya ingin Nora jadi anak yang membanggakan, santri yang taat pengasuh dan santri yang punya ilmu manfaat. Kelak itulah yang akan ibu pertanggung jawabkan sebagai orang tua di hadapan Allah.”

Dalam mimpinya dia senang sekali bertemu ibu, dia mengangguk. Mengiyakan pesan ibunya. Berjanji dalam hati untuk melakukannya. 

Malam itu, Sungguh ibunya memang datang. Memberi pesan terakhir pada Nora sebelum pergi jauh dan tak pernah kembali.

TAMAT

4 komentar: